BLORA – Kawasan Situs Goa Sentono, Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, kembali semarak. Ratusan masyarakat memadati kawasan tersebut dalam Festival Goa Sentono 2026 yang menghadirkan seni rakyat, inovasi kostum, serta kolaborasi seniman dan akademisi.
Festival yang digelar pada Sabtu (8/8/2026) tersebut menjadi puncak Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun Pendanaan 2026 bertajuk Revitalisasi Festival Goa Sentono melalui Inovasi Kostum dan Pertunjukan Seni Rakyat Blora.
Program ini dilaksanakan Program Studi Desain Mode, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) berkolaborasi dengan Program Studi Tari, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta. Kegiatan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Sejumlah pejabat dan tokoh daerah hadir dalam festival tersebut, di antaranya Ketua Dekranasda Kabupaten Blora Hj. Ainia Shalichah Arief Rohman. Turut hadir jajaran Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blora, Forkopimcam Kradenan, Pemerintah Desa Mendenrejo, pelaku seni, komunitas budaya, serta masyarakat.
Kehadiran Ketua Dekranasda Kabupaten Blora, Hj. Ainia Shalichah Arief Rohman, mendapat sambutan positif dari penyelenggara. Dalam sambutannya, Ainia memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Festival Goa Sentono yang diinisiasi tim PISN UNS dan ISI Surakarta.
Menurutnya, antusiasme masyarakat yang memenuhi kawasan Situs Goa Sentono menunjukkan bahwa kegiatan tersebut mendapat sambutan baik. Ia berharap Festival Goa Sentono dapat terus dikembangkan dan menjadi agenda tahunan.
Antusiasme warga memang menjadi salah satu pemandangan utama festival. Kawasan situs yang biasanya relatif tenang berubah menjadi ruang perjumpaan masyarakat dengan seni dan budaya lokal.
Kostum Baru, Tradisi Tetap Dipertahankan
Daya tarik Festival Goa Sentono tidak hanya terletak pada pertunjukan seni rakyat, tetapi juga pada inovasi visual yang ditampilkan. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah pengembangan kostum pertunjukan Barongan Blora yang dirancang berdasarkan karakter, narasi, dan nilai budaya Situs Goa Sentono. Kostum tersebut dipadukan dengan kain batik bermotif khusus Situs Goa Sentono yang diproduksi oleh pelaku UMKM batik di Kecamatan Kradenan.
Inovasi tersebut menjadi upaya untuk mempertemukan kekayaan tradisi dengan pendekatan desain kontemporer. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi diberi ruang untuk berkembang sehingga lebih menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Ketua Tim PISN, M. Rudianto, mengatakan revitalisasi Festival Goa Sentono tidak semata-mata dimaksudkan untuk menggelar pertunjukan, tetapi juga membangun ekosistem seni dan ekonomi kreatif berbasis budaya.
“Melalui inovasi kostum, pengembangan pertunjukan seni, dan penguatan kapasitas masyarakat, kami berharap Festival Goa Sentono dapat berkembang menjadi agenda budaya berkelanjutan yang mampu menarik pengunjung, memperkuat identitas budaya Blora, sekaligus menjadi ruang pentas bagi komunitas seni khususnya di area Blora selatan,” ujarnya.
Kolaborasi Kampus dan Masyarakat
Program PISN ini melibatkan dosen dan mahasiswa dalam proses penciptaan dan pelaksanaan kegiatan. Tim diketuai M. Rudianto, S.E., S.Sn., M.Sn., dengan anggota Dr. Ratna Endah Santoso, S.Sn., M.Sn., Dr. Katarina Indah Sulastuti, S.Sn., M.Sn., dan Prof. Dr. Sarwono, S.Sn., M.Sn.
Rangkaian program meliputi edukasi dan pelibatan masyarakat, eksplorasi artistik, perancangan kostum inovatif Barongan Blora, workshop peningkatan kompetensi pelaku seni dan pengelola kawasan, pendampingan, serta penyelenggaraan festival.
Kolaborasi tersebut mempertemukan kekuatan akademik perguruan tinggi dengan pengetahuan dan pengalaman masyarakat setempat. Bagi tim PISN, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar revitalisasi tidak berhenti pada sebuah kegiatan seremonial.
Festival diharapkan menjadi ruang bagi komunitas seni untuk terus berkarya sekaligus membuka peluang pengembangan potensi ekonomi kreatif di wilayah Blora bagian selatan.
Menuju Agenda Budaya Tahunan
Festival Goa Sentono juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi kawasan tersebut sebagai destinasi wisata budaya. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, komunitas seni, pengelola kawasan, dan masyarakat menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan kegiatan.
Melalui penyelenggaraan festival secara berkelanjutan, Goa Sentono diharapkan dikenal sebagai situs budaya, serta berkembang sebagai ruang seni yang hidup dan mampu memberikan manfaat sosial serta ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Program ini sekaligus berkontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 8 melalui pengembangan ekonomi kreatif berbasis seni budaya, SDG 9 melalui inovasi kostum dan pertunjukan serta penguatan infrastruktur festival, dan SDG 17 melalui kemitraan antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas seni, dan masyarakat.
Bagi masyarakat Mendenrejo dan kawasan Blora selatan, Festival Goa Sentono 2026 bukan sekadar panggung pertunjukan. Ia menjadi penanda bahwa situs budaya dapat kembali dihidupkan melalui kreativitas, kolaborasi, dan keterlibatan masyarakat. Dari Goa Sentono, seni tradisi Blora diharapkan terus tumbuh, tetap berakar pada warisan budaya, dan tetapi mampu menjawab tantangan zaman.